Senin, 21 Desember 2015

Teori Sewa Lahan Von Thunen

Teori Sewa Lahan Von Thunen

Johan Heinrich Von Thunen (1783-1850) adalah adalah ahli ekonomi pertanian asal Jerman yang membuat teori tentang lokasi pertanian pada awal abad ke 19. Von Thunen mengembangkan teori ini  berdasarkan pengamatan di daerah tempat tinggalnya. Inti dari teori Von Thunen adalah, ia menitikberatkan pada 2 hal utama tentang pola keruangan pertanian yaitu:

1. Jarak lokasi pertanian ke pasar
2. Sifat produk pertanian (keawetan, harga, beban angkut)

Pada zaman itu banyak wilayah pertanian terletak di wilayah yang tidak strategis. Petani yang berada di lokasi jauh dari pusat pasar atau kota, harus menempuh jarak yang cukup jauh untuk menjual hasil panennya. Padahal di zaman tersebut alat transportasi yang digunakan untuk mengangkut hasil pertanian masih berupa gerobak yang ditarik oleh sapi, kuda atau keledai. Biaya transportasi yang dikerahkan tidak sebanding dengan upah yang di dapat. Hal ini menunjukkan betapa mahalnya kota sebagai pusat pasar. Dari hasil studi inilah Von Thunen mengeluarkan teori lokasi pertanian.

Inti dari teori Von Thunen adalah bahwa harga sewa  lahan pertanian akan berbeda-beda nilainya tergantung tata guna lahannya. Lahan yang berada di dekat pusat pasar atau kota akan lebih mahal di bandingkan lahan yang jauh dari pusat pasar. Karena jarak yang makin jauh dari pusat pasar, akan meningkatkan biaya transportasi.

Pola keruangan pertanian menurut Von Thunen akan berbentuk seperti lingkaran pada gambar di bawah ini


Gambar tersebut terbagi 2, yang pertama mencirikan "isolated area" yang memperlihatkan daerah yang teratur, sedangkan gambar kedua memerlihatkan adanya moda transportasi sungai . Semua petani akan memaksimalkan produktivitas lahannya mengikuti permintaan pasar. 

Model Teori Lokasi Pertanian Von Thunen membandingkan hubungan antara biaya produksi, harga pasar dan biaya transportasi. Kewajiban petani adalah memaksimalkan keuntungan yang didapat dari harga pasar dikurang biaya transportasi dan biaya produksi. Aktivitas yang paling produktif seperti berkebun dan produksi susu sapi, atau aktivitas yang memiliki biaya transportasi tinggi seperti kayu bakar, lokasinya dekat dengan pasar.

Livable City & Award

World's Most Livable Cities

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
The World's Most Livable Cities adalah nama informal yang diberikan pada daftar kota dalam survei tahunan kondisi hidup. Dua yang terkenal[butuh rujukan] adalah Mercer Quality of Living Survey dan World's Most Livable Cities dari The Economist.
 Quality of Living Survey[sunting | sunting sumber]
The Economist's World's Most Liveable Cities 2011 (Top 10)[1]
KotaNegaraRating
1Melbourne Australia97.5
2Vienna Austria97.4
3Vancouver Kanada97.3
4Toronto Kanada97.2
5Calgary Kanada96.6
6Sydney Australia96.1
7Helsinki Finlandia96.0
8Perth Australia95.9
9Adelaide Australia95.9
10Auckland Selandia Baru95.7
Mercer's Quality of Living Survey dikeluarkan secara tahunan, membandingkan 215 kota berdasarkan 39 kriteria. New York diberikan nilai dasar 100 dan kota lainnya dinilai sesuai perbandingan.

Kriteria penting adalah keamananpendidikankebersihanrekreasi, stabilitas politik-ekonomi dan transportasi publik. Pentingnya daftar ini adalah bahwa perusahaan internasional menggunakannya untuk menentukan di mana mereka akan membuka kantor dan seberapa besar gaji karyawannya.
Dalam daftar 2008, tingkat teratas didominasi oleh kota dari Eropa, dengan beberapa entri dari Kanada, Australia dan Selandia Baru. Swiss dan Jerman keduanya mempunyai 3 kota di dalam 10 besar ini, yang mencolok adalah Swiss, karena ukuran negaranya. Entri pertama dari negara lain adalah AS di urutan 28, Singapura 32 dan Jepang 35. Baghdadberada di urutan terbawah. Dari 25 negara di bawah, 18 berasal dari Afrika. Bila dibandingkan dengan daftar dari tahun sebelumnya, negara lain Asia Selatan (terutama India), Asia Timur (terutama Cina), Timur Tengah dan Eropa Timursedang mencapai puncaknya.
Mercer juga memiliki daftar 'Personal Safety', yang juga didominasi oleh kota-kota UE dan Swiss, dengan 5 besar diduduki LuxembourgBernJenewaHelsinki dan Zürich.
Dalam Mercer Quality of Living Survey 2007, 5 besar diduduki Zürich dengan 108.1 poin, Jenewa (108.0), Vancouver dan Vienna 107.7 poin, Auckland 107.3 dan Düsseldorf107.2. Kota di Swiss, Jerman, Australia, Selandia baru dan Kanada mempunyai nilai yang baik. Semua ibukota besar Australia menempati peringkat tinggi dengan Sydney 9 poin,Melbourne 17, Perth 21, Adelaide 30 dan Brisbane 31. Ibukota Selandia Baru Wellington menempati urutan 12 dan kota terbesarnya Auckland di urutan 5. Kanada juga denganVancouver di peringkat 3, Toronto 13, Ottawa 18, Montreal 22 dan Calgary 24. Kota di AS yang menempati peringkat baik adalah Honolulu di 27 dan San Francisco 29.

World's Most Livable Cities[sunting | sunting sumber]

The Economist's World's Most Livable Cities 2009
CityCountryRating
1VancouverCanada98.0
2ViennaAustria97.9
3MelbourneAustralia97.5
4TorontoCanada97.2
5PerthAustralia96.6
CalgaryCanada96.6
7HelsinkiFinland96.2
8JenewaSwitzerland96.1
SydneyAustralia96.1
ZürichSwitzerland96.1
Survei standar hidup The Economist Intelligence Unit memperlihatkan kota di Kanada, Australia, Austria, Finlandia dan Swiss sebagai kota tujuan ideal berkat ketersediaan barang dan jasa, risiko pribadi rendah dan infrastruktur yang efektif. Laporan ini menempatkan VancouverKanada sebagai kota yang pantas dihuni di dunia, dengan Vienna menempati urutan kedua diikuti oleh MelbourneAustralia. Survei ini mengatakan "Dalam iklim politik global saat ini, bukan suatu hal yang luar biasa bahwa kota yang paling cocok adalah kota yang memiliki ancaman terorisme rendah." [2]
Kota besar Australia (Perth di posisi 4, Adelaide di 7 dan Sydney di 9) mengklaim banyak posisi di 10 besar. Kota lainnya di Kanada juga menempati peringkat tinggi di survei ini. Selain Vancouver, kota Toronto dan Calgary berada di dalam 10 besar, dengan Ottawa dan Montreal di 25 besar. ViennaAustria, ibukota Finlandia Helsinki dan Jenewa dan Zürich diSwiss juga masuk sepuluh besar.
HarareZimbabwe adalah kota terburuk di dunia untuk disebut rumah. Kota di AfrikaAsia Selatan, dan Amerika Latinumumnya menempati peringkat rendah dalam survei EIU.

Artikel tentang Teori LIVABLE CITY

By: Rindrasih, Erda
jktnite.jpg
Menurut hasil International Symposium on Planning for Livable Cities di HCMC (Ho Chi Minh City) Vietnam (2006), enam puluh persen penduduk Asia saat ini ternyata hidup di kota. Hanya tinggal empat puluh persen saja hidup di desa. Dengan berbagai atraksinya, kota bagaikan magnet yang menarik banyak migran untuk datang. Kalau boleh saya ingin menggunakan kata “pie”. Kenapa saya pakai pie? Ini bukan karena saya sudah nonton film American Pie, tapi karena bentuk bulat yang dimiliki “pie” mengingatkan saya pada teori Christaller. Di tengah “pie” terdapat kacang, keju, strawbery, atau apa saja yang rasanya jauh lebih manis, namun lengket. Kalau tidak pandai memakannya kadang mulut dan bibir kita bisa clemotan. Apalagi bagi yang giginya sensitif, aduh… makan pie bakal sengsara deh karena manisnya menusuk gigi. Nah, teori Christaller rupanya juga senada dengan “pie” dalam hal keberadaan pusat di tengah tengah lingkaran tersebut. Christaller membuat penggolongan kota dalam bentuk melingkar, dan tengah tengahnya adalah CBD (Central Bussiness District) yang bisa dibilang sangat menjanjikan bagi bisnis dan perkembangannya, namun bisa jadi merupakan sumber dari masalah.
Hampir semua CBD di Asia adalah kota besar. Yang pengen saya obrolkan disini bukan tentang bagaimana kota di CBD terbentuk dan system ekonomi didalamnya. Namun, lebih kepada seberapa mampu kota menyediakan tempat yang livable untuk masyarakat. Apa itu livable? Untuk yang ini saya juga masih mencari padanan yang tepat dalam Bahasa Indonesia. Kalau langsung kita terjemahkan sih artinya bisa jadi “bisa dihuni”, “layak huni”, “layak tinggal”, dll. Tapi bisa jadi kita pinjam kata “ramah”, atau “viviable”.
Issue tentang “kota ramah” atau livable cities mulai mengemuka ketika civil society menyadari kebutuhan akan sebuah lingkungan tempat tinggal yang layak. Di barat ide tentang livable cities telah lama diasosikan dengan pencapaian manusia dalam semua hubungan sosial, pembangunan ekonomi dan jalannya pemerintahan. Kota merupakan pusat dari kehidupan sosial dan inovasi teknologi, sumber dari peningkatan pendapatan perkapita, dan pusat dari ekspresi demokrasi. Menurut Douglass (2006), city sebenarnya berasal dari kata ‘civil society’ yang akarnya adalah “civitas” dan “citizen”. Kota mengalami proses modernisasi seiring dengan berjalannya perkembangan civil society. Salah satu tokoh yang cukup penting dalam proses modernisasi kota di Barat adalah Ebenezer Howard, dimana dia menemukan konsep “garden city”. Garden city nya Howard mencoba menggabungkan antara kota dan desa di dalam masyarakat. Dia adalah salah satu pendorong bagi munculnya konsep konsep kota baru sesudahnya, seperti misalnya Frank Lloyd Wright, yang mencetuskan ide broadacres, ada pula Le Corbusier yang membuat perhitungan geometrical kota bahwa apapun yang ada di kota harus diklasifikasikan berdasarkan fungsi dan alokasi, sampai akhirnya muncullah konsep livable cities.
Saya tergelitik untuk mencari tau apakah kota kota di Indonesia merupakan kota yang layak huni dan ramah? Secara international memang tidak ada parameter khusus untuk menilai sebuah kota layak huni atau tidak, setidaknya sampai sekarang. World Bank rupanya juga tak mau kalah untuk mengambil bagian dari isu ini. World Bank kemudian membuat serangkain indikator untuk mengukur kota, yaitu melalui ukuran; pelayanan kebutuhan dasar (air, sanitasi, dll), lingkungan kota yang sehat, dan kecukupan kebutuhan keuangan. Menurut professorku, indikator yang disajikan oleh World Bank ini ada yang kurang, yaitu pada sisi sosial, menurutnya kehidupan sosial juga merupakan factor penting dalam menentukan kota layak huni atau tidak.
Teringat saya akan sebuah film “Aeon Fox”. Kurang yakin juga sih judulnya. Yang saya ingat, film ini mengkisahkan tentang sebuah kota utopian yang dibangun di tengah tengah kesengsaraan diluarnya. Kota ini dikelilingi tembok sangat tinggi yang membatasi kehidupan masyarakat di dalam tembok dan di luar tembok. Tak ada seorangpun yang berani keluar bahkan mendekat di tembok. Mereka mengikuti dogma bahwa kehidupan di luar tembok adalah kehidupan yang kasar, mengerikan dan uncivilise. Kota ini di kuasai oleh sebuah rezim yang kekal karena mereka terus melalukan proses regenerasi sel buatan dengan teknologi yang sangat canggih. Kebutuhan makan dan minum di kota dipenuhi oleh laboratorium yang khusus mengolah bahan makanan khusus untuk masyarakat. Jumlah penduduk di kontrol ketat. Bayi yang lahir di kota itu haruslah menggantikan penduduk yang mati. Mereka menyimpan DNA penduduk yang telah meninggal yang kemudian diproses untuk menjadi bayi dan disuntikkan ke ibu yang ingin memiliki anak. Sehingga hak untuk memiliki anak sangat diatur oleh rezim. Namun, yang terjadi masyarakat mengalami kesakitan psikologis dan kematian jiwa, karena manusia di dalamnya tidak berganti. Mereka lahir, meninggal kemudian dilahirkan lagi, kemudian meninggal lagi dan dilahirkan lagi, begitulah seterusnya. Rasanya kota semacam itu yang akan muncul jika kita hanya terus menggunakan indikator fisik semata dalam menilai livable cities.
Kembali kepada pembicaraan tentang Livable cities, saya cukup heran ketika melihat hasil analisis dari sebuah Jurnal terbitan Singapore University Press, Jones & Douglass (2007), ternyata Jakarta merupakan kota yang paling livable di bandingkan HCMC, Manila, dan Bangkok. Indikator yang digunakan focus pada: lifeword, personal wellbeing dan environment well being. Bolehlah kita sendikit bangga tentang hasil penelitian ini, namun perlu juga kita lihat penggunaan datanya dan relativitas dalam analysis.